Indonesia kini semakin gencar memperkuat posisi industri animasi nasional di kancah global. Dengan komitmen pemerintah yang semakin kuat, anggaran kreatif untuk animasi lokal mulai ditambah, guna memfasilitasi karya-karya kreatif dari para animator Indonesia agar bisa menembus pasar internasional. Langkah ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas produksi animasi, tetapi juga memberikan peluang besar bagi generasi muda kreatif untuk berkembang dan berkontribusi di dunia hiburan global.
Dalam beberapa tahun terakhir, industri animasi Indonesia telah menunjukkan pertumbuhan pesat. Menurut data Asosiasi Industri Animasi Indonesia (AINAKI) pada tahun 2020, sektor ini mampu menyerap 24 ribu tenaga kerja, dengan lebih dari 5.000 di antaranya adalah animator. Namun, jumlah tersebut masih jauh dari kebutuhan pasar yang terus berkembang. Untuk itu, Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) mengambil langkah strategis dengan menambah anggaran kreatif dan memperluas akses bagi animator lokal untuk masuk ke platform global.
Meningkatkan Kualitas Animator Indonesia
Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menyatakan bahwa potensi animasi Indonesia sangat besar. “Generasi muda kita yang memiliki kemampuan khusus dalam memproduksi film-film animasi sebetulnya semakin banyak, tetapi masih belum cukup banyak, kita perlu lagi semakin banyak lagi,” ujarnya dalam sebuah kesempatan di Jakarta Pusat.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Kemenekraf aktif menjalin kerja sama dengan berbagai institusi pendidikan, baik formal maupun non-formal, serta lembaga vokasi. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi animator Indonesia. “Untuk itu juga Kementerian Ekonomi Kreatif saat ini juga terus berkomunikasi dengan para perguruan-perguruan tinggi, termasuk pendidikan-pendidikan formal, non-formal, vokasi juga untuk terus mengembangkan kualitas dari animator-animator kita,” tambahnya.
Film Animasi Lokal Berhasil Di Pasaran Global

Salah satu bukti nyata dari kualitas animator Indonesia adalah kesuksesan film animasi anak-anak berjudul JUMBO yang akan tayang di 17 negara. Film produksi Visinema Studios ini melibatkan lebih dari 200 kreator lokal yang menunjukkan potensi besar industri animasi dalam negeri. Selain itu, film animasi seperti Battle of Surabaya yang diproduksi oleh MSV Pictures juga mendapat apresiasi internasional. Trailer film tersebut bahkan meraih penghargaan di ajang International Movie Trailer Festival (IMTF) 2013 di California AS.
Film animasi Indonesia juga tidak hanya diakui di dalam negeri, tetapi juga di kancah internasional. Banyak animator berbakat yang telah berkontribusi dalam produksi film-film Hollywood ternama. Salah satunya adalah Ronny Gani, animator yang terlibat dalam pembuatan efek visual film Jurassic World: Dominion (2022). Selain itu, ada juga Griselda Sastrawinata, animator yang pernah bekerja di DreamWorks Animation dan Walt Disney Animation Studios, dengan karya-karya seperti Moana (2016), Frozen II (2019), hingga Raya and the Last Dragon (2021).
Peluang Ekonomi Kreatif yang Luas

Menparekraf Mari Elka Pangestu menyambut positif perkembangan industri animasi di Yogyakarta. Ia mengaku terkejut melihat perkembangan dunia animasi di sana yang berkembang pesat. “Saya tidak mengira animasi di Yogyakarta sudah sangat berhasil seperti itu,” katanya.
Ia juga berharap film animasi Indonesia dapat menjadi motor penggerak ekonomi kreatif. Menurutnya, jika film tersebut atau film animasi apapun berhasil di pasaran, maka keuntungannya bukan hanya diperoleh dari hasil penjualan filmnya tetapi juga dari merchandise, iklan, percetakan, bahkan dari game.
Tantangan dan Strategi Ke depan

Meski potensi besar telah terbuka, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah memenuhi selera pasar global yang sering kali berbeda dengan preferensi lokal. Untuk itu, produser film seperti Prof M Suyanto memilih mengadaptasi cerita sesuai dengan selera Hollywood, seperti menggunakan story editor asing untuk membantu proses penulisan skenario.
Namun, meskipun demikian, pihak Kemenekraf tetap berkomitmen untuk mendukung karya-karya animasi lokal. Mari Pangestu berjanji akan memfasilitasi NSV Pictures untuk membangun kemitraan dengan distributor global seperti Walt Disney. “Atau kalau pun bukan Disney, yang penting distributor global,” katanya.
FAQ

Apa tujuan pemerintah menambah anggaran untuk animasi lokal?
Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi animator Indonesia, serta memfasilitasi karya-karya kreatif mereka untuk masuk ke platform global.
Bagaimana kinerja industri animasi Indonesia di pasar global?
Industri animasi Indonesia telah menunjukkan prestasi yang menjanjikan, dengan beberapa film lokal yang sukses di luar negeri, seperti JUMBO dan Battle of Surabaya.
Apa tantangan utama yang dihadapi animator Indonesia?
Tantangan utamanya adalah memenuhi selera pasar global yang sering kali berbeda dengan preferensi lokal, serta meningkatkan kualitas produksi secara keseluruhan.
Apakah pemerintah mendukung kolaborasi dengan produsen internasional?
Ya, pemerintah aktif mendukung kolaborasi dengan produsen internasional seperti Walt Disney, dengan harapan karya animasi Indonesia dapat lebih mudah menembus pasar global.
Bagaimana dampak ekonomi dari industri animasi?
Industri animasi memiliki potensi besar untuk meningkatkan ekonomi kreatif, dengan keuntungan yang tidak hanya berasal dari penjualan film, tetapi juga dari merchandise, iklan, dan bisnis lainnya.
Kesimpulan
Indonesia kini sedang membangun fondasi kuat untuk memperkuat posisi industri animasi nasional di kancah global. Dengan komitmen pemerintah yang semakin kuat, anggaran kreatif yang ditambah, serta dukungan dari berbagai pihak, karya-karya animasi lokal memiliki peluang besar untuk bersaing di pasar internasional. Tidak hanya sebagai bentuk seni, animasi Indonesia juga menjadi representasi budaya dan kreativitas bangsa yang layak diakui dunia. Dengan langkah-langkah strategis dan kolaborasi yang tepat, masa depan industri animasi Indonesia tampak cerah dan penuh harapan.
